PISANG MOLEN



Sempat bingung membuat cemilan buat sore hari. Ada persediaan pisang uli, hanya ada terigu protein tinggi, stok tepung maizena habis, stok telur tinggal lima butir, tepung sagu, butter, margarin masih ada. Setelah melihat gilingan mie di atas meja dapur. Akhirnya teringat ayah doyan banget makan pisang molen, arghhh....mendingan bikin aja. Setelah searching photo, tertarik melihat foto pisang molen dari blog simply cooking and baking. Melihat resepnya, langsung saya eksekusi pisang molen. Tepung maizena saya ganti tepung sagu. Hasilnya renyah, enak apalagi pisang ulinya benar-benar matang pohon waahhh...perpaduan yang nikmat. Si kecil bolak-balik nyemilin pisang molen hangat nyum...nyum....kulitnya dulu yang dimakan baru pisangnya.
Setelah ayah pulang kantor menyeruput teh hangat dan menikmati pisang molennya sambutan hm...hm...enak mungkin lebih enak lagi klo adonannya tambahin susu ya Bunda, isinya tambahin keju hihihii....iyalah ayah so pasti pisang molennya lebih enak. Ok, berikutnya bunda bikinin request ayah ya, catat. Ho..ho...seleranya ayah klo ketemu pisang pasti gak pernah luput dari keju dan susu.


Yuk, yang penasaran pengen membuat sendiri resep sebagai berikut :

Pisang Molen
Resep: Sajian Sedap

Bahan-bahan :
  • 75 gram margarin 
  • 1 butir telur 
  • 75 gram gula tepung 
  • 300 gram tepung terigu protein tinggi 
  • 2 sendok makan tepung maizena (saya menggunakan tepung sagu)
  • 1/4 sdt teh garam 
  • 50 ml air atau secukupnya ( saya menggunakan air es)
  • 20 buah pisang uli untuk isi (saya bagi menjadi 4 bagian)
  • minyak untuk menggoreng 
Cara Pengolahan :
  1. Kocok margarin, telur, dan gula tepung 30 detik.
  2. Tambahkan tepung terigu, tepung sagu, dan garam sambil diayak dan diaduk rata. Tuang air. Aduk rata.
  3. Giling tipis di gilingan mie dari ketebalan no. 4 (paling tebal no.1).
  4. Potong panjang 40 cm lebar 2 cm.
  5. Lilitkan ke pisang uli sambil direkatkan dengan air.
  6. Goreng dalam minyak yang sudah dipanaskan sampai matang.
  7. Angkat dan tiriskan.

Menggoreng pisang molen lebih baik dengan api kecil ya, karena adonannya mengandung gula sehingga cepat gosong.


Selamat mencoba dan menikmati.


Sempat bingung membuat cemilan buat sore hari. Ada persediaan pisang uli, hanya ada terigu protein tinggi, stok tepung maizena habis, stok telur tinggal lima butir, tepung sagu, butter, margarin masih ada. Setelah melihat gilingan mie di atas meja dapur. Akhirnya teringat ayah doyan banget makan pisang molen, arghhh....mendingan bikin aja. Setelah searching photo, tertarik melihat foto pisang molen dari blog simply cooking and baking. Melihat resepnya, langsung saya eksekusi pisang molen. Tepung maizena saya ganti tepung sagu. Hasilnya renyah, enak apalagi pisang ulinya benar-benar matang pohon waahhh...perpaduan yang nikmat. Si kecil bolak-balik nyemilin pisang molen hangat nyum...nyum....kulitnya dulu yang dimakan baru pisangnya.
Setelah ayah pulang kantor menyeruput teh hangat dan menikmati pisang molennya sambutan hm...hm...enak mungkin lebih enak lagi klo adonannya tambahin susu ya Bunda, isinya tambahin keju hihihii....iyalah ayah so pasti pisang molennya lebih enak. Ok, berikutnya bunda bikinin request ayah ya, catat. Ho..ho...seleranya ayah klo ketemu pisang pasti gak pernah luput dari keju dan susu.


Yuk, yang penasaran pengen membuat sendiri resep sebagai berikut :

Pisang Molen
Resep: Sajian Sedap

Bahan-bahan :
  • 75 gram margarin 
  • 1 butir telur 
  • 75 gram gula tepung 
  • 300 gram tepung terigu protein tinggi 
  • 2 sendok makan tepung maizena (saya menggunakan tepung sagu)
  • 1/4 sdt teh garam 
  • 50 ml air atau secukupnya ( saya menggunakan air es)
  • 20 buah pisang uli untuk isi (saya bagi menjadi 4 bagian)
  • minyak untuk menggoreng 
Cara Pengolahan :
  1. Kocok margarin, telur, dan gula tepung 30 detik.
  2. Tambahkan tepung terigu, tepung sagu, dan garam sambil diayak dan diaduk rata. Tuang air. Aduk rata.
  3. Giling tipis di gilingan mie dari ketebalan no. 4 (paling tebal no.1).
  4. Potong panjang 40 cm lebar 2 cm.
  5. Lilitkan ke pisang uli sambil direkatkan dengan air.
  6. Goreng dalam minyak yang sudah dipanaskan sampai matang.
  7. Angkat dan tiriskan.

Menggoreng pisang molen lebih baik dengan api kecil ya, karena adonannya mengandung gula sehingga cepat gosong.


Selamat mencoba dan menikmati.

PISANG RAI (BALI)



Sajian tradisianal khas Bali Pisang Rai memang sangat menggoda untuk dinikmati, apalagi menikmatinya di sore hari dengan teh tawar hangat. Sudah lama memendam rasa ingin mencoba sajian ini, setelah membaca Majalah Sedap yang baru rasa itu timbul lagi. Langsung mencoba tunggu kapan lagi, walaupun saya belum pernah mencoba rasa originalnyanya dari Bali. Tetapi setidaknya rasa penasaran terjawab sudah. Pisang Rai ini ternyata enak apalagi bahannya dari pisang yang benar-benar tua wahhhh......anak dan suami saya teriak enakkkk......enakkkk.....ha..ha...ya iyalah pisang kan favorit keluarga saya, hampir tiap hari selalu ada pisang. Yang ingin mencoba, silahkan resep sudah tersedia ya......


Pisang Rai
Resep: Majalah Sedap

Bahan:

  • 150 gram tepung beras
  • 150 ml air
  • 1/2 sendok teh garam
  • 8 buah pisang raja (saya menggunakan pisang kepok)
  • 1.500 ml air untuk merebus
  • 2 lembar daun pandan
  • 1/2 sendok teh garam

Bahan taburan (kukus sampai matang):

  • 150 gram kelapa parut kasar
  • 1/2 sendok teh garam
  • 1 lembar daun pandan, ikat simpul

Bahan saus gula:

  • 200 gram gula merah sisir
  • 100 ml air
  • 2 lembar daun pandan, ikat simpul

Cara membuat:

  1. Aduk tepung beras, air, dan garam sampai rata. Sisihkan.
  2. Rebus air, daun pandan, dan garam sampai mendidih.
  3. Celupkan pisang dalam larutan tepung. Masukkan dalam rebusan air pandan. Rebus sampai matang.
  4. Angkat dan tiriskan. Gulingkan di atas bahan taburan.
  5. Saus gula, rebus gula merah, air, dan daun pandan. Aduk hingga gula larut dan mendidih.
  6. Sajikan pisang bersama saus gula. 



Selamat mencoba dan menikmati.....




Sajian tradisianal khas Bali Pisang Rai memang sangat menggoda untuk dinikmati, apalagi menikmatinya di sore hari dengan teh tawar hangat. Sudah lama memendam rasa ingin mencoba sajian ini, setelah membaca Majalah Sedap yang baru rasa itu timbul lagi. Langsung mencoba tunggu kapan lagi, walaupun saya belum pernah mencoba rasa originalnyanya dari Bali. Tetapi setidaknya rasa penasaran terjawab sudah. Pisang Rai ini ternyata enak apalagi bahannya dari pisang yang benar-benar tua wahhhh......anak dan suami saya teriak enakkkk......enakkkk.....ha..ha...ya iyalah pisang kan favorit keluarga saya, hampir tiap hari selalu ada pisang. Yang ingin mencoba, silahkan resep sudah tersedia ya......


Pisang Rai
Resep: Majalah Sedap

Bahan:

  • 150 gram tepung beras
  • 150 ml air
  • 1/2 sendok teh garam
  • 8 buah pisang raja (saya menggunakan pisang kepok)
  • 1.500 ml air untuk merebus
  • 2 lembar daun pandan
  • 1/2 sendok teh garam

Bahan taburan (kukus sampai matang):

  • 150 gram kelapa parut kasar
  • 1/2 sendok teh garam
  • 1 lembar daun pandan, ikat simpul

Bahan saus gula:

  • 200 gram gula merah sisir
  • 100 ml air
  • 2 lembar daun pandan, ikat simpul

Cara membuat:

  1. Aduk tepung beras, air, dan garam sampai rata. Sisihkan.
  2. Rebus air, daun pandan, dan garam sampai mendidih.
  3. Celupkan pisang dalam larutan tepung. Masukkan dalam rebusan air pandan. Rebus sampai matang.
  4. Angkat dan tiriskan. Gulingkan di atas bahan taburan.
  5. Saus gula, rebus gula merah, air, dan daun pandan. Aduk hingga gula larut dan mendidih.
  6. Sajikan pisang bersama saus gula. 



Selamat mencoba dan menikmati.....


CARA BIKANG PANDAN MINI



Senang rasanya melihat kue tradisional yang satu ini selain mekarnya cantik seperti bunga dan rasanyapun selalu bikin rindu. Ternyata membuat cara bikang ini cukup tricky apalagi dalam hal mengeplok dan mencungkil kue ini dari cetakan huaaa…..butuh kesabaran. Tapi mengeplok bikin tangan pegel bisa kita ganti dengan mengocok menggunakan mixer dengan kecepatan rendah aihhhh……bikin hati senang.

Sebenarnya membuat cara bikang ini dua bulan yang lalu tapi baru saat ini saya posting hampir kelupaaan. Saya membuatnya dengan menggunakan cetakan kue lumpur tapi ternyata agak kesulitan mencungkilnya mungkin karena cetakannya kurang landai he…he….mungkin lho ya. Maklum belum punya cetakannya jadi hasrat mencoba cara bikang tak bisa terbendung apa salahnya menggunakan peralatan yang ada dan hasilnya lumayan tidak terlalu mengecewakan hanya kurang mekar.


Resep dari tabloid Saji langganan saya tahun 2011, dan setelah mencoba keinginan mencoba lagi selalu ada. Semoga untuk berikutnya bisa lebih cantik mekarnya. Sekilas saya pernah membaca bahwa cara bikang yang cantik dan rasanya enak kita harus berani dengan tambahan santannya yang kental sehingga hasilnya tidak terlalu lengket di cetakan. Semoga resep ini bisa bermanfaat.



Cara Bikang Pandan Mini
Sumber resep Tabloid Saji

Bahan biang:
  • 1 sendok makan tepung beras
  • 75 ml santan dari ¼ butir kelapa
Bahan:
  • 175 gram tepung beras
  • 25 gram tepung terigu protein sedang
  • 75 gram gula pasir
  • ¼ sendok teh garam
  • 300 ml santan dari 11/2 butir kelapa
  • 50 ml air daun suji dari 20 lembar daun suji dan 2 lembar daun pandan
  • 4 tetes pewarna hijau tua
Bahan olesan (didihkan):
  • 100 ml santan dari ½ butir kelapa, dididihkan
  • 1/8 sendok teh garam
 Cara membuat:
  1. Bahan biang, masak tepung beras dan santan sambil diaduk sampai meletup-letup. Angkat.
  2. Panas-panas, tuang ke atas campuran tepung beras, tepung terigu, gula pasir dan garam sambil diaduk rata dengan sendok kayu.
  3. Setelah hangat, tuang santan, air daun suji, dan pewarna hijau tua sambil dikocok perlahan 15 menit.
  4. Panaskan cetakan poffertjes sambil diberi kelapa parut. Aduk sampai kelapa kering dan buang kelapanya.
  5. Tuang adonan sampai setinggi ¾ cetakan, panggang sampai berlubang-lubang. Cungkil bagian bawah dan tengah adonan. Tahan sampai merekah. Angkat.
  6. Oles permukaan kue dan bagian bawah kue dengan bahan olesan.
Catatan:

MENGEPLOK ADONAN KUE TRADISIONAL

Kunci kesuksesan pembuatan kue tradisional tak semata pada perbandingan bahan yang tepat, tetapi juga teknik pembuatan yang benar. Malah hal ini sangat penting. Contohnya adalah pengeplokan. Cara pengeplokan yang keliru, tidak akan menghasilkan kue tradisional yang mengembang dan bersarang.
Apa itu mengeplok?
Mengeplok adalah menarik dan membanting adonan berulang-ulang sampai adonan terasa lebih lembut.

Fungsi Pengeplokan
Ketika tepung ditarik-tarik/dibanting, berubahlah protein yang dikandung tepung menjadi gluten. Nah gluten membentuk serat pada kue.
Pengeplokan juga berfungsi untuk melembutkan kue.
Mengembangkan kue.

Adonan kue yang dikeplok
Pengeplokan adonan biasanya diterapkan pada kue-kue yang diharapkan akan mengembang (kue-kue dengan ragi) dan kue-kue yang bersarang teksturnya. Misalnya bika ambon, kue mangkok, serabi, kue cucur.

Cara Mengeplok
Taruh telapak tangan di atas adonan.
Angkat tangan ke atas sambil membawa sedikit adonan.
Gerakan tangan seperti membentuk lingkaran lantas turunkan adonan.
Sambil turun, ambil lagi adonan yang lain dan angkat kembali ke atas begitu seterusnya.

Cara lain dengan mengocok menggunakan mixer
Ini dilakukan pada adonan yang sudah encer atau malah terlalu encer sehingga susah dikeplok.
Adonan yang masih keras, juga tidak disarankan untuk dimikser agar tidak merusak mikser.

Kapan Dikeplok
Pembuatan kue tradisional biasanya diawali dengan mencampur cairan ke dalam tepung sedikit demi sedikit. Saat dituang sedikit cairan, adoanan masih keras. Karena itu, yang dilakukan hanya menguleni. Setelah adonan mengental, maka dilakukan pengeplokan.

Berapa Lama
Prinsipnya pengeplokan dilakukan untuk membuat adonan menjadi lembut. Setelah berulangkali membuat, anda bisa merasakan waktu yang tepat untuk berhenti mengeplok. Namun secara umum pengeplokan bisa dilakukan antara 20-30 menit, tergantung jenis kue dan banyaknya adonan.
(Sumber Tabloid Saji edisi 200 tahun 2011)



Selamat mencoba. 
CARA BIKANG PANDAN MINI



Senang rasanya melihat kue tradisional yang satu ini selain mekarnya cantik seperti bunga dan rasanyapun selalu bikin rindu. Ternyata membuat cara bikang ini cukup tricky apalagi dalam hal mengeplok dan mencungkil kue ini dari cetakan huaaa…..butuh kesabaran. Tapi mengeplok bikin tangan pegel bisa kita ganti dengan mengocok menggunakan mixer dengan kecepatan rendah aihhhh……bikin hati senang.

Sebenarnya membuat cara bikang ini dua bulan yang lalu tapi baru saat ini saya posting hampir kelupaaan. Saya membuatnya dengan menggunakan cetakan kue lumpur tapi ternyata agak kesulitan mencungkilnya mungkin karena cetakannya kurang landai he…he….mungkin lho ya. Maklum belum punya cetakannya jadi hasrat mencoba cara bikang tak bisa terbendung apa salahnya menggunakan peralatan yang ada dan hasilnya lumayan tidak terlalu mengecewakan hanya kurang mekar.


Resep dari tabloid Saji langganan saya tahun 2011, dan setelah mencoba keinginan mencoba lagi selalu ada. Semoga untuk berikutnya bisa lebih cantik mekarnya. Sekilas saya pernah membaca bahwa cara bikang yang cantik dan rasanya enak kita harus berani dengan tambahan santannya yang kental sehingga hasilnya tidak terlalu lengket di cetakan. Semoga resep ini bisa bermanfaat.



Cara Bikang Pandan Mini
Sumber resep Tabloid Saji

Bahan biang:
  • 1 sendok makan tepung beras
  • 75 ml santan dari ¼ butir kelapa
Bahan:
  • 175 gram tepung beras
  • 25 gram tepung terigu protein sedang
  • 75 gram gula pasir
  • ¼ sendok teh garam
  • 300 ml santan dari 11/2 butir kelapa
  • 50 ml air daun suji dari 20 lembar daun suji dan 2 lembar daun pandan
  • 4 tetes pewarna hijau tua
Bahan olesan (didihkan):
  • 100 ml santan dari ½ butir kelapa, dididihkan
  • 1/8 sendok teh garam
 Cara membuat:
  1. Bahan biang, masak tepung beras dan santan sambil diaduk sampai meletup-letup. Angkat.
  2. Panas-panas, tuang ke atas campuran tepung beras, tepung terigu, gula pasir dan garam sambil diaduk rata dengan sendok kayu.
  3. Setelah hangat, tuang santan, air daun suji, dan pewarna hijau tua sambil dikocok perlahan 15 menit.
  4. Panaskan cetakan poffertjes sambil diberi kelapa parut. Aduk sampai kelapa kering dan buang kelapanya.
  5. Tuang adonan sampai setinggi ¾ cetakan, panggang sampai berlubang-lubang. Cungkil bagian bawah dan tengah adonan. Tahan sampai merekah. Angkat.
  6. Oles permukaan kue dan bagian bawah kue dengan bahan olesan.
Catatan:

MENGEPLOK ADONAN KUE TRADISIONAL

Kunci kesuksesan pembuatan kue tradisional tak semata pada perbandingan bahan yang tepat, tetapi juga teknik pembuatan yang benar. Malah hal ini sangat penting. Contohnya adalah pengeplokan. Cara pengeplokan yang keliru, tidak akan menghasilkan kue tradisional yang mengembang dan bersarang.
Apa itu mengeplok?
Mengeplok adalah menarik dan membanting adonan berulang-ulang sampai adonan terasa lebih lembut.

Fungsi Pengeplokan
Ketika tepung ditarik-tarik/dibanting, berubahlah protein yang dikandung tepung menjadi gluten. Nah gluten membentuk serat pada kue.
Pengeplokan juga berfungsi untuk melembutkan kue.
Mengembangkan kue.

Adonan kue yang dikeplok
Pengeplokan adonan biasanya diterapkan pada kue-kue yang diharapkan akan mengembang (kue-kue dengan ragi) dan kue-kue yang bersarang teksturnya. Misalnya bika ambon, kue mangkok, serabi, kue cucur.

Cara Mengeplok
Taruh telapak tangan di atas adonan.
Angkat tangan ke atas sambil membawa sedikit adonan.
Gerakan tangan seperti membentuk lingkaran lantas turunkan adonan.
Sambil turun, ambil lagi adonan yang lain dan angkat kembali ke atas begitu seterusnya.

Cara lain dengan mengocok menggunakan mixer
Ini dilakukan pada adonan yang sudah encer atau malah terlalu encer sehingga susah dikeplok.
Adonan yang masih keras, juga tidak disarankan untuk dimikser agar tidak merusak mikser.

Kapan Dikeplok
Pembuatan kue tradisional biasanya diawali dengan mencampur cairan ke dalam tepung sedikit demi sedikit. Saat dituang sedikit cairan, adoanan masih keras. Karena itu, yang dilakukan hanya menguleni. Setelah adonan mengental, maka dilakukan pengeplokan.

Berapa Lama
Prinsipnya pengeplokan dilakukan untuk membuat adonan menjadi lembut. Setelah berulangkali membuat, anda bisa merasakan waktu yang tepat untuk berhenti mengeplok. Namun secara umum pengeplokan bisa dilakukan antara 20-30 menit, tergantung jenis kue dan banyaknya adonan.
(Sumber Tabloid Saji edisi 200 tahun 2011)



Selamat mencoba. 
TAHU BAKSO SAKURA





Setelah buka inbox di Facebook ternyata ada undangan dari Mbak Ellen Widyasari salah satu juragan tumpeng yang sukses dan ownernya Dapur Ibu. Acaranya “Ngeliwet Bareng”, syukur Alhamdulillah saya bisa hadir. Terima kasih buat Mbak Ellen atas undangannya. Salah satu potluck yang saya bawa tahu sakura,  identik dengan topping telur puyuh, berhubung bosan dengan telur puyuh akhirnya muncul ide, saya ganti dengan bakso dan jadilah “Tahu Bakso Sakura” idenya terinspirasi dengan tahu bakso. Semoga potlucknya berkenan dan rasanya cocok buat ibu-ibu yang semuanya pinter masak dengan kreasi makanannya semua enak-enak.

Sekilas tentang potluck “Ngeliwet Bareng” ada dibawah ini ya, ada Bongko mento, getuk, kue pancong, kue pepe, risoles, ayam keeling, pukis Banyumas, pepes, cilok, cireng, buah menteng, kue cucur, jengkol dan masih banyak lagi. Special dari tuan rumah nasi liwet komplit ada empal, sayur asem, ikan asin, sambal yang pedasnya mantap, petai tak ketinggalan. Wah....terbayang kan betapa serunya.....




Sebelumnya minta maaf yang tayang hanya fotonya saja, ha...ha...bikin ngiler aja.Akhirnya sekarang baru punya kesempatan ngeblog lagi berhubung demam dan ada kerjaan yang harus saya selesaikan. Walaupun batuk tetap kudu semangat. Yang menanti resep silahkan mencoba ya, gampang kok……. 


Tahu Bakso Sakura ala Pawon Ayu
Resep by Maya Efendy
Untuk 52 buah

Bahan-bahan:
  • 5 buah tahu putih, haluskan
  • 3 buah wortel ukuran sedang, diserut.
  • Daun bawang iris halus
  • Daun seledri iris halus
  • Garam secukupnya
  • Gula pasir secukupnya
  • 3 butir telur kocok lepas
  • 21 butir bakso sapi potong dua
  • ½ sendok teh merica bubuk

Bumbu halus:
  • 8 butir bawang merah goreng
  • 6 siung bawang putih goreng
  • ½ sendok teh merica butiran

Bahan pencelup (kocok lepas):
  • 3 butir putih telur
  • 2 sendok makan air matang

Bahan tambahan:
  • Cabe rawit hijau atau saus sambal

Cara membuat:
  1. Siapkan cetakan sakura. Sisihkan.
  2. Campur tahu dengan bumbu halus, garam, gula dan bubuk lada, aduk sampai merata, diamkan selama 15 menit agar bumbu meresap.
  3. Tambahkan  serutan wortel, daun bawang, daun seledri. Campur dan aduk rata.
  4. Tambahkan telur aduk lagi sampai rata.
  5. Masukan campuran tahu ke dalam cetakan sakura. Atasnya tambahkan potongan bakso.
  6. Kukus selama 30 menit. Diamkan sampai uap panasnya hilang. Lepaskan dari cetakan.
  7. Celupkan tahu yang telah dicetak di dalam bahan pencelup. Goreng dengan minyak yang panas dengan api sedang. Setelah kekuningan. Angkat. Tiriskan.
  8. Sajikan dengan cabe rawit atau saus sambal.


Selamat mencoba.



TAHU BAKSO SAKURA





Setelah buka inbox di Facebook ternyata ada undangan dari Mbak Ellen Widyasari salah satu juragan tumpeng yang sukses dan ownernya Dapur Ibu. Acaranya “Ngeliwet Bareng”, syukur Alhamdulillah saya bisa hadir. Terima kasih buat Mbak Ellen atas undangannya. Salah satu potluck yang saya bawa tahu sakura,  identik dengan topping telur puyuh, berhubung bosan dengan telur puyuh akhirnya muncul ide, saya ganti dengan bakso dan jadilah “Tahu Bakso Sakura” idenya terinspirasi dengan tahu bakso. Semoga potlucknya berkenan dan rasanya cocok buat ibu-ibu yang semuanya pinter masak dengan kreasi makanannya semua enak-enak.

Sekilas tentang potluck “Ngeliwet Bareng” ada dibawah ini ya, ada Bongko mento, getuk, kue pancong, kue pepe, risoles, ayam keeling, pukis Banyumas, pepes, cilok, cireng, buah menteng, kue cucur, jengkol dan masih banyak lagi. Special dari tuan rumah nasi liwet komplit ada empal, sayur asem, ikan asin, sambal yang pedasnya mantap, petai tak ketinggalan. Wah....terbayang kan betapa serunya.....




Sebelumnya minta maaf yang tayang hanya fotonya saja, ha...ha...bikin ngiler aja.Akhirnya sekarang baru punya kesempatan ngeblog lagi berhubung demam dan ada kerjaan yang harus saya selesaikan. Walaupun batuk tetap kudu semangat. Yang menanti resep silahkan mencoba ya, gampang kok……. 


Tahu Bakso Sakura ala Pawon Ayu
Resep by Maya Efendy
Untuk 52 buah

Bahan-bahan:
  • 5 buah tahu putih, haluskan
  • 3 buah wortel ukuran sedang, diserut.
  • Daun bawang iris halus
  • Daun seledri iris halus
  • Garam secukupnya
  • Gula pasir secukupnya
  • 3 butir telur kocok lepas
  • 21 butir bakso sapi potong dua
  • ½ sendok teh merica bubuk

Bumbu halus:
  • 8 butir bawang merah goreng
  • 6 siung bawang putih goreng
  • ½ sendok teh merica butiran

Bahan pencelup (kocok lepas):
  • 3 butir putih telur
  • 2 sendok makan air matang

Bahan tambahan:
  • Cabe rawit hijau atau saus sambal

Cara membuat:
  1. Siapkan cetakan sakura. Sisihkan.
  2. Campur tahu dengan bumbu halus, garam, gula dan bubuk lada, aduk sampai merata, diamkan selama 15 menit agar bumbu meresap.
  3. Tambahkan  serutan wortel, daun bawang, daun seledri. Campur dan aduk rata.
  4. Tambahkan telur aduk lagi sampai rata.
  5. Masukan campuran tahu ke dalam cetakan sakura. Atasnya tambahkan potongan bakso.
  6. Kukus selama 30 menit. Diamkan sampai uap panasnya hilang. Lepaskan dari cetakan.
  7. Celupkan tahu yang telah dicetak di dalam bahan pencelup. Goreng dengan minyak yang panas dengan api sedang. Setelah kekuningan. Angkat. Tiriskan.
  8. Sajikan dengan cabe rawit atau saus sambal.


Selamat mencoba.



Challenge #1 YKMK
KUE CUCUR




Tema jajananan tradisional itu tak ada habisnya untuk dibahas banyak sekali jenisnya. Seandainya dijadiin buku wow….bisa berapa halaman ya. So pasti bukunya tebal sekali hihihi…tapi seru lho. Jajanan tradisional banyak yang mulai langka, kita sebaiknya ikut melestarikannya. Apalagi mencoba membuatnya pasti menyenangkan.

Setoran kedua Jajanan Pasar Tradisional Indonesia untuk YKMK saya tertarik dengan “Kue Cucur” yaitu jajanan masa kecil yang bentuknya mirip topi berenda dengan warna khasnya coklat dari gula merah dengan rasa yang legit, harumnya ada yang daun pandan, daun jeruk atau kayu manis. Saya lebih memilih harum kayu manis karena terasa legit dan hangat sesuai dengan musim penghujan sekarang ini. Tapi kembali lagi ke selera masing-masing ya.


Sepintas membuat kue cucur itu rumit ternyata setelah mencoba tidak serumit yang kita bayangkan. Bahannya sederhana yaitu tepung dan larutan gula. Kue cucur termasuk kue yang bersarang walaupun tanpa ragi. Pasti penasaran kok bisa ya? Menurut majalah Sedap yang saya baca “kue cucur yang bagus dan cantik, akan menggembung dibagian tengahnya seperti topi, berenda di sekeliling pinggirnya dan bersarang di dalamnya ketika kita sobek. Tanpa syarat itu, cucur belum sempurna sekalipun enak rasanya.”

Bahan untuk membuat kue cucur adalah:
-         Tepung beras yang dicampur dengan tepung terigu supaya hasilnya tidak keras.
-    Gula merah yang terbuat dari air kelapa ini yang membantu pembentukan sarang di dalam kue. Gula merah harus benar-benar cair, ketika dituang ke tepung sebaiknya hangat-hangat kuku. Cairan gula yang panas menyebabkan tepung akan matang dan tidak bisamenyerap. Begitu pula sebaliknya cairan gula yang dingin menyebabkan tepung mengendap di dasar adonan.

Pengadonan Kue cucur juga harus kita perhatikan. Sebaiknya adonan dikeplok atau dipukul-pukul tujuannya untuk memasukkan udara ke dalam adonan. Proses pengeplokan ini harus lama dan terus menerus yaitu 30 menit. Perlu digaris bawahin disini saya tanpa pengeplokan tetapi saya menggunakan mixer dengan kecepatan rendah selama 30 menit.

Saatnya pengistirahatan adonan minimal selama 40 menit. Disaat ini pula saya ikut istirahat menyuapin anak makan siang, bermain dan menidurkannya. Kurang lebih tiga jam adonan saya istirahatkan, untung saya tidak ikut tidur he…he…
Menjelang sore saatnya menggoreng adonan kue cucur. Nah ini dia yang menarik, jujur saja saya pernah sekali membuat cucur dan ternyata tidak secantik yang saya inginkan adonan bersarang membentuk renda tetapi tidak membentuk topi, mengapa? Ternyata oh ternyata wajan yang saya gunakan kurang cekung akhirnya saya ke pasar membeli wajan yang cekung tapi tidak terlalu tebal harganyapun murah meriah limabelas ribu rupiah saja bonus sutil hihihiii…..ini dia penampakannya dibawah ini.


Kesimpulannya harus menggunakan wajan yang cekung. Menggoreng cucur jangan menggunakan banyak minyak, saya menggunakan 4 sendok makan minyak dengan adonan kue cucur cukup satu sendok sayur. Minyak harus panas betul ketika adonan dituang sebaiknya kecilkan apinya lalu siram-siram adonan agar sarang terbentuk dan matang didalamnya. Pengalaman saya disini adonan mentah keluar dengan sendirinya dan tanpa saya tusuk dengan lidi. Kemudian kue cucur kita balik sebentar jangan terlalu lama karena akan menyebabkan pinggiran kue cucur mengeras. Setelah itu angkat dan tiriskan. Terbukti adonan cucur menyerap banyak minyak, sebaiknya ditiriskan lalu letakkan diatas kertas roti. Ketika menggoreng selanjutnya minyak didalam wajan berkurang. Tambahkan lagi hingga volumenya tetap seperti semula dan panaskan kembali.


Kue Cucur
Resep Majalah Sedap
Untuk 11 buah

Bahan :
  • 230 ml air
  • 125 gram gula merah
  • 2 lembar daun pandan (saya ganti dengan bubuk kayu manis secukupnya)
  • 125 gram tepung beras
  • 30 gram tepung terigu protein sedang
  • ¼ sendok teh garam
  • 2 sendok the gula pasir (tambahan dari saya)

Cara membuat:
  1. Didihkan air, gula merah dan daun pandan (bubuk kayu manis) sampai gula larut. Saring. Diamkan hingga hangat kuku.
  2. Campur tepung beras, tepung terigu dan garam. Tuang larutan gula sedikit-sedikit sambil diuleni. Setelah adonan kental, keplok-keplok 30 menit sambil terus dituangi larutan gula sedikit-sedikit sampai habis. Diamkan 40 menit. Versi saya Tuang larutan gula sekaligus lalu mixer dengan kecepatan rendah selama 30 menit sampai tercampur rata.
  3. Panaskan 4 sendok makan minyak dalam wajan cekung kecil. Tuang adonan cucur. Siram-siram dengan minyak panas sampai mengembang dan berserat.
  4. Tusuk bagian tengahnya dengan tusuk sate sambil diputar-putar sehingga adonan yang masih mentah keluar. Siram-siram sampai matang. Balik sebentar, Angkat.

Catatan:
  • Resep ini tanpa saya keplok tetapi saya menggunakan mixer dengan kecepatan rendah selama 30 menit.
  • Minyak jangan terlalu panas menyebakan adonan cepat mongering.
  • Saya menggunakan sendok sayur kecil hasilnya menjadi 18 buah.

Selamat mencoba dan menikmati d


Challenge #1 YKMK
KUE CUCUR




Tema jajananan tradisional itu tak ada habisnya untuk dibahas banyak sekali jenisnya. Seandainya dijadiin buku wow….bisa berapa halaman ya. So pasti bukunya tebal sekali hihihi…tapi seru lho. Jajanan tradisional banyak yang mulai langka, kita sebaiknya ikut melestarikannya. Apalagi mencoba membuatnya pasti menyenangkan.

Setoran kedua Jajanan Pasar Tradisional Indonesia untuk YKMK saya tertarik dengan “Kue Cucur” yaitu jajanan masa kecil yang bentuknya mirip topi berenda dengan warna khasnya coklat dari gula merah dengan rasa yang legit, harumnya ada yang daun pandan, daun jeruk atau kayu manis. Saya lebih memilih harum kayu manis karena terasa legit dan hangat sesuai dengan musim penghujan sekarang ini. Tapi kembali lagi ke selera masing-masing ya.


Sepintas membuat kue cucur itu rumit ternyata setelah mencoba tidak serumit yang kita bayangkan. Bahannya sederhana yaitu tepung dan larutan gula. Kue cucur termasuk kue yang bersarang walaupun tanpa ragi. Pasti penasaran kok bisa ya? Menurut majalah Sedap yang saya baca “kue cucur yang bagus dan cantik, akan menggembung dibagian tengahnya seperti topi, berenda di sekeliling pinggirnya dan bersarang di dalamnya ketika kita sobek. Tanpa syarat itu, cucur belum sempurna sekalipun enak rasanya.”

Bahan untuk membuat kue cucur adalah:
-         Tepung beras yang dicampur dengan tepung terigu supaya hasilnya tidak keras.
-    Gula merah yang terbuat dari air kelapa ini yang membantu pembentukan sarang di dalam kue. Gula merah harus benar-benar cair, ketika dituang ke tepung sebaiknya hangat-hangat kuku. Cairan gula yang panas menyebabkan tepung akan matang dan tidak bisamenyerap. Begitu pula sebaliknya cairan gula yang dingin menyebabkan tepung mengendap di dasar adonan.

Pengadonan Kue cucur juga harus kita perhatikan. Sebaiknya adonan dikeplok atau dipukul-pukul tujuannya untuk memasukkan udara ke dalam adonan. Proses pengeplokan ini harus lama dan terus menerus yaitu 30 menit. Perlu digaris bawahin disini saya tanpa pengeplokan tetapi saya menggunakan mixer dengan kecepatan rendah selama 30 menit.

Saatnya pengistirahatan adonan minimal selama 40 menit. Disaat ini pula saya ikut istirahat menyuapin anak makan siang, bermain dan menidurkannya. Kurang lebih tiga jam adonan saya istirahatkan, untung saya tidak ikut tidur he…he…
Menjelang sore saatnya menggoreng adonan kue cucur. Nah ini dia yang menarik, jujur saja saya pernah sekali membuat cucur dan ternyata tidak secantik yang saya inginkan adonan bersarang membentuk renda tetapi tidak membentuk topi, mengapa? Ternyata oh ternyata wajan yang saya gunakan kurang cekung akhirnya saya ke pasar membeli wajan yang cekung tapi tidak terlalu tebal harganyapun murah meriah limabelas ribu rupiah saja bonus sutil hihihiii…..ini dia penampakannya dibawah ini.


Kesimpulannya harus menggunakan wajan yang cekung. Menggoreng cucur jangan menggunakan banyak minyak, saya menggunakan 4 sendok makan minyak dengan adonan kue cucur cukup satu sendok sayur. Minyak harus panas betul ketika adonan dituang sebaiknya kecilkan apinya lalu siram-siram adonan agar sarang terbentuk dan matang didalamnya. Pengalaman saya disini adonan mentah keluar dengan sendirinya dan tanpa saya tusuk dengan lidi. Kemudian kue cucur kita balik sebentar jangan terlalu lama karena akan menyebabkan pinggiran kue cucur mengeras. Setelah itu angkat dan tiriskan. Terbukti adonan cucur menyerap banyak minyak, sebaiknya ditiriskan lalu letakkan diatas kertas roti. Ketika menggoreng selanjutnya minyak didalam wajan berkurang. Tambahkan lagi hingga volumenya tetap seperti semula dan panaskan kembali.


Kue Cucur
Resep Majalah Sedap
Untuk 11 buah

Bahan :
  • 230 ml air
  • 125 gram gula merah
  • 2 lembar daun pandan (saya ganti dengan bubuk kayu manis secukupnya)
  • 125 gram tepung beras
  • 30 gram tepung terigu protein sedang
  • ¼ sendok teh garam
  • 2 sendok the gula pasir (tambahan dari saya)

Cara membuat:
  1. Didihkan air, gula merah dan daun pandan (bubuk kayu manis) sampai gula larut. Saring. Diamkan hingga hangat kuku.
  2. Campur tepung beras, tepung terigu dan garam. Tuang larutan gula sedikit-sedikit sambil diuleni. Setelah adonan kental, keplok-keplok 30 menit sambil terus dituangi larutan gula sedikit-sedikit sampai habis. Diamkan 40 menit. Versi saya Tuang larutan gula sekaligus lalu mixer dengan kecepatan rendah selama 30 menit sampai tercampur rata.
  3. Panaskan 4 sendok makan minyak dalam wajan cekung kecil. Tuang adonan cucur. Siram-siram dengan minyak panas sampai mengembang dan berserat.
  4. Tusuk bagian tengahnya dengan tusuk sate sambil diputar-putar sehingga adonan yang masih mentah keluar. Siram-siram sampai matang. Balik sebentar, Angkat.

Catatan:
  • Resep ini tanpa saya keplok tetapi saya menggunakan mixer dengan kecepatan rendah selama 30 menit.
  • Minyak jangan terlalu panas menyebakan adonan cepat mongering.
  • Saya menggunakan sendok sayur kecil hasilnya menjadi 18 buah.

Selamat mencoba dan menikmati d


Challenge #1 YKMK
PERAPE
(Banjarmasin)



Dalam rangka memeriahkan berdirinya Your Kitchen My Kitchen (YKMK), mengadakan tantangan yang pertama kali yaitu Challenge #1 YKMK dengan tema “Jajanan Pasar Tradisional Indonesia”. Good Luck YKMK…….and special thanks for Lynda Maitimu Timman sebagai pendiri dari YKMK, akhirnya saya menjadi member YKMK, senang rasanya.

Wahhhh…..siapa saja pasti suka jajanan apalagi jajanan tradisional yang beraneka ragam jenisnya dari Sabang sampai Merauke. Biasanya di Jakarta lebih dikenal dengan kue subuh, kue atau jajanan yang selalu tersedia di pagi hari.

Saya sebagai Bangsa Indonesia sangat bangga bisa membuat aneka jajanan tradisional Indonesia, dengan aneka bahan pangan yang ada di negeri ini. Jajanan tradisional mempunyai cita rasa, kreasi yang unik di setiap daerah. Salah satu jajanan yang menarik yang sudah lama ingin saya buat adalah Perape, yaitu jajanan khas Banjarmasin Kalimantan Selatan yang berbentuk buah pare atau paria yang kulitnya terbuat dari tepung ketan dan isinya kelapa parut dengan gula merah atau sering disebut unti, biasanya berwarna hijau daun suji dan harum daun pandan. Biasanya Perape disebut wadai pare khas Banjar atau kue pare.

Saya tertarik membuat Perape karena bentuknya yang unik dan enak pastinya, apalagi dengan tepung ketan dengan tambahan santan. Sebelum penyajian sebaiknya kita oles dengan santan terlebih dahulu, terbayang kan gurih berpadu dengan legitnya unti. Sebenarnya di daerah saya Jawa Tengah kue ini seperti kue Bugis tetapi bentuknya berbeda.

Kue perape ini resepnya saya ambil dari Majalah langganan saya yaitu Majalah Sedap. Sudah tiga kali saya membuat Perape karena semua suka dengan kue ini.




Perape
Resep Majalah Sedap
Untuk 26 buah

Bahan :
  • 250 gram tepung ketan
  • 1 sendok makan air kapur sirih
  • ¼ sendok teh garam
  • 175 ml santan kental dari ½ butir kelapa
  • 50 ml air daun suji, dari 30 lembar daun suji ditumbuk bersama 50 ml air
  • 4 tetes pewarna hijau tua (saya skip)

Bahan isi:
  • 50 ml air
  • 75 gram gula merah, sisir halus,
  • 15 gram gula pasir
  • 100 gram kelapa setengah tua, parut kasar
  • 1 lembar daun pandan, ikat
  • 1/8 sendok teh garam

Bahan olesan, aduk rata, didihkan:
  • 50 ml santan kental dari ¼ kelapa
  • 1/8 sendok teh garam

Cara membuat:
  1. Kulit, aduk tepung ketan, air kapur dan garam. Masukkan campuran santan, air daun suji dan pewarna bila pake. Uleni sampai rata.
  2. Rebus air, gula merah dan gula pasir. Saring.
  3. Rebus kembali air gula, tambahkan kelapa, daun pandan dan garam. Aduk sampai matang dan angkat.
  4. Ambil satu sendok makan adonan kulit, pipihkan. Tambahkan isi. Bentuk lonjong. Buat guratan-guratan hingga membentuk seperti paria.
  5. Oleskan bagian atas kue dengan bahan olesan. Alasi daun pisang. Kukus di dalam pengukus yang sudah dipanaskan 10 menit. Sambil dibuka tutup pancinya. Sebelum disajikan, oles lagi dengan santan.

Catatan:
  • Unti saya buat sebelumnya.
  • Untuk pewarna hijau saya gunakan 30 lembar daun suji ditambah 3 lembar daun pandan saya blender dengan air lalu saring.
  • Air kapur saya ambil dari rendaman air kapur sirih yang bagian atasnya, endapannya jangan digunakan.
  • Saya menggunakan 175 santan hangat, langsung saya campur dengan tepung ketan.
  • Setelah adonan kalis segera tutup dengan plastik wrap, agar tidak cepat kering selama membentuk adonan.
  • Adonan kulit saya ambil 15 gram, jadi untuk resep ini menjadi 32 buah. Besarnya bentuk sesuai selera. Menurut resep menjadi 26 buah.
  • Untuk membuat guratan-guratan saya menggunakan garpu.
  • Setelah adonan matang dan dingin sebaiknya disimpan di dalam wadah kedap udara, sehingga kue perape tidak cepat mengeras.


Selamat mencoba dan menikmati d


Challenge #1 YKMK
PERAPE
(Banjarmasin)



Dalam rangka memeriahkan berdirinya Your Kitchen My Kitchen (YKMK), mengadakan tantangan yang pertama kali yaitu Challenge #1 YKMK dengan tema “Jajanan Pasar Tradisional Indonesia”. Good Luck YKMK…….and special thanks for Lynda Maitimu Timman sebagai pendiri dari YKMK, akhirnya saya menjadi member YKMK, senang rasanya.

Wahhhh…..siapa saja pasti suka jajanan apalagi jajanan tradisional yang beraneka ragam jenisnya dari Sabang sampai Merauke. Biasanya di Jakarta lebih dikenal dengan kue subuh, kue atau jajanan yang selalu tersedia di pagi hari.

Saya sebagai Bangsa Indonesia sangat bangga bisa membuat aneka jajanan tradisional Indonesia, dengan aneka bahan pangan yang ada di negeri ini. Jajanan tradisional mempunyai cita rasa, kreasi yang unik di setiap daerah. Salah satu jajanan yang menarik yang sudah lama ingin saya buat adalah Perape, yaitu jajanan khas Banjarmasin Kalimantan Selatan yang berbentuk buah pare atau paria yang kulitnya terbuat dari tepung ketan dan isinya kelapa parut dengan gula merah atau sering disebut unti, biasanya berwarna hijau daun suji dan harum daun pandan. Biasanya Perape disebut wadai pare khas Banjar atau kue pare.

Saya tertarik membuat Perape karena bentuknya yang unik dan enak pastinya, apalagi dengan tepung ketan dengan tambahan santan. Sebelum penyajian sebaiknya kita oles dengan santan terlebih dahulu, terbayang kan gurih berpadu dengan legitnya unti. Sebenarnya di daerah saya Jawa Tengah kue ini seperti kue Bugis tetapi bentuknya berbeda.

Kue perape ini resepnya saya ambil dari Majalah langganan saya yaitu Majalah Sedap. Sudah tiga kali saya membuat Perape karena semua suka dengan kue ini.




Perape
Resep Majalah Sedap
Untuk 26 buah

Bahan :
  • 250 gram tepung ketan
  • 1 sendok makan air kapur sirih
  • ¼ sendok teh garam
  • 175 ml santan kental dari ½ butir kelapa
  • 50 ml air daun suji, dari 30 lembar daun suji ditumbuk bersama 50 ml air
  • 4 tetes pewarna hijau tua (saya skip)

Bahan isi:
  • 50 ml air
  • 75 gram gula merah, sisir halus,
  • 15 gram gula pasir
  • 100 gram kelapa setengah tua, parut kasar
  • 1 lembar daun pandan, ikat
  • 1/8 sendok teh garam

Bahan olesan, aduk rata, didihkan:
  • 50 ml santan kental dari ¼ kelapa
  • 1/8 sendok teh garam

Cara membuat:
  1. Kulit, aduk tepung ketan, air kapur dan garam. Masukkan campuran santan, air daun suji dan pewarna bila pake. Uleni sampai rata.
  2. Rebus air, gula merah dan gula pasir. Saring.
  3. Rebus kembali air gula, tambahkan kelapa, daun pandan dan garam. Aduk sampai matang dan angkat.
  4. Ambil satu sendok makan adonan kulit, pipihkan. Tambahkan isi. Bentuk lonjong. Buat guratan-guratan hingga membentuk seperti paria.
  5. Oleskan bagian atas kue dengan bahan olesan. Alasi daun pisang. Kukus di dalam pengukus yang sudah dipanaskan 10 menit. Sambil dibuka tutup pancinya. Sebelum disajikan, oles lagi dengan santan.

Catatan:
  • Unti saya buat sebelumnya.
  • Untuk pewarna hijau saya gunakan 30 lembar daun suji ditambah 3 lembar daun pandan saya blender dengan air lalu saring.
  • Air kapur saya ambil dari rendaman air kapur sirih yang bagian atasnya, endapannya jangan digunakan.
  • Saya menggunakan 175 santan hangat, langsung saya campur dengan tepung ketan.
  • Setelah adonan kalis segera tutup dengan plastik wrap, agar tidak cepat kering selama membentuk adonan.
  • Adonan kulit saya ambil 15 gram, jadi untuk resep ini menjadi 32 buah. Besarnya bentuk sesuai selera. Menurut resep menjadi 26 buah.
  • Untuk membuat guratan-guratan saya menggunakan garpu.
  • Setelah adonan matang dan dingin sebaiknya disimpan di dalam wadah kedap udara, sehingga kue perape tidak cepat mengeras.


Selamat mencoba dan menikmati d


SENTILING LAPIS



Singkong parut tiap bulan selalu ada di freezer saya, karena keluarga kecil saya penggemar singkong. Setiap saat bisa dibuat jajanan apa saja yang saya inginkan. Sebenarnya sudah pernah membuat sentiling tapi baru ini posting di blog.

Resep sentiling ini saya ambil dari tabloid Saji dengan resep yang menyesuaikan dengan stok bahan yang ada. Sebenarnya  di resep jumlah singkong parut 500 gram dan ternyata saya punya stok 800 gram daripada sisa 300 gram lebih baik dibuat sentiling semua.

Biasanya almarhum ibu saya membuat sentiling dengan santan, kali ini saya tanpa santan karena sudah ada taburan kelapa parut, menurut saya tetap gurih. Perpaduan parutan singkong dengan agar-agar bubuk membuat sensasi kenyal khas sentiling dengan kelegitan yang pas dan aroma wangi pandan vanili. Sungguh kudapan tradisional yang benar-benar menggoda dan tak pernah membosankan, justru selalu membuat kangen penikmatnya. Yang ingin membuat sentiling, kelegitannya bisa disesuaikan dengan selera masing-masing ya.





Sentiling Lapis

Bahan :
  • 800 gram singkong parut, diperas sedikit airnya 40 ml.
  • 80 ml air
  • 145 gram gula pasir
  • 1 sendok teh agar-agar bubuk
  • ½ sendok teh vanili
  • ½ sendok teh garam
  • 1 tetes pewarna hijau
  • 1 tetes pewarna merah
  • 1 tetes pewarna kuning

Bahan taburan (kukus 15menit):
  • 200 gram kelapa parut kasar
  • ¼ sendok teh garam
  • 1 lembar daun pandan

Cara membuat:
  1. Aduk rata singkong, air, gula pasir, agar-agar bubuk, vanili dan garam.
  2. Bagi 3 adonan. Satu bagian tambahkan pewarna hijau, aduk rata. Satu bagian tambahkan pewarna merah muda, aduk rata. Satu bagian tambahkan pewarna kuning, aduk rata.
  3. Tuang adonan hijau di loyang 22x10x6cm yang dialas plastik. Ratakan. Tuang adonan merah muda. Ratakan. Tuang adonan kuning. Ratakan. Kukus 60 menit sampai matang.
  4. Potong-potong dan gulingkan di bahan taburan.
  5. Sajikan.

Selamat mencoba dan menikmati d


SENTILING LAPIS



Singkong parut tiap bulan selalu ada di freezer saya, karena keluarga kecil saya penggemar singkong. Setiap saat bisa dibuat jajanan apa saja yang saya inginkan. Sebenarnya sudah pernah membuat sentiling tapi baru ini posting di blog.

Resep sentiling ini saya ambil dari tabloid Saji dengan resep yang menyesuaikan dengan stok bahan yang ada. Sebenarnya  di resep jumlah singkong parut 500 gram dan ternyata saya punya stok 800 gram daripada sisa 300 gram lebih baik dibuat sentiling semua.

Biasanya almarhum ibu saya membuat sentiling dengan santan, kali ini saya tanpa santan karena sudah ada taburan kelapa parut, menurut saya tetap gurih. Perpaduan parutan singkong dengan agar-agar bubuk membuat sensasi kenyal khas sentiling dengan kelegitan yang pas dan aroma wangi pandan vanili. Sungguh kudapan tradisional yang benar-benar menggoda dan tak pernah membosankan, justru selalu membuat kangen penikmatnya. Yang ingin membuat sentiling, kelegitannya bisa disesuaikan dengan selera masing-masing ya.





Sentiling Lapis

Bahan :
  • 800 gram singkong parut, diperas sedikit airnya 40 ml.
  • 80 ml air
  • 145 gram gula pasir
  • 1 sendok teh agar-agar bubuk
  • ½ sendok teh vanili
  • ½ sendok teh garam
  • 1 tetes pewarna hijau
  • 1 tetes pewarna merah
  • 1 tetes pewarna kuning

Bahan taburan (kukus 15menit):
  • 200 gram kelapa parut kasar
  • ¼ sendok teh garam
  • 1 lembar daun pandan

Cara membuat:
  1. Aduk rata singkong, air, gula pasir, agar-agar bubuk, vanili dan garam.
  2. Bagi 3 adonan. Satu bagian tambahkan pewarna hijau, aduk rata. Satu bagian tambahkan pewarna merah muda, aduk rata. Satu bagian tambahkan pewarna kuning, aduk rata.
  3. Tuang adonan hijau di loyang 22x10x6cm yang dialas plastik. Ratakan. Tuang adonan merah muda. Ratakan. Tuang adonan kuning. Ratakan. Kukus 60 menit sampai matang.
  4. Potong-potong dan gulingkan di bahan taburan.
  5. Sajikan.

Selamat mencoba dan menikmati d


 NAGASARI

Tak terasa Nok Ness sudah satu setengah tahun, waktunya imunisasi pediacel yang keempat. Yuk, kita ke RSIA Permata Cibubur ya nok? Alhamdulillah dapat nomor antrian dua, biasanya selalu dapat nomor antrian antara 10-15. Setelah pulang imunisasi saya mampir kios seberang rumah sakit, tergoda melihat pisang tanduk yang yang bohay dan tua.
Sampai rumah nok ness tertidur, waktunya membuat cemilan. Pilihan saya membuat nagasari. Daun pisang sudah saya siapkan sebelumnya, untuk menghindari daun pisang yang mudah sobek dengan menjemurnya sebentar sampai agak layu lalu siapkan potongan-potongan daun pisang sesuai ukuran untuk nagasari. Bersihkan potongan-potongan daun pisang dengan lap basah, daun pisang siap untuk membungkus adonan apa saja atau simpan untuk esok harinya.

Nagasarinya uenakkkk kata ayah, hihihi…senangnya, nok ness suka sekali makan nagasari, enak karena pisangnya juga benar-benar matang. Satu resep menjadi dua puluh bungkus, saya mencoba menyimpan empat bungkus untuk esok hari ternyata masih enak. Saya ingat ibu saya sering membuat nagasari dan buatan beliau menjadi favorit keluarga besar saya. Beliau selalu membuat nagasari dengan campuran maizena, berhubung stok maizena tinggal sedikit hanya ada stok tepung hunkwe dan sagu. Akhirnya nagasari saya buat dengan campuran kedua tepung tersebut, hasilnya agak kenyal dan rasanya menurut saya lebih enak daripada menggunakan tepung beras saja. Tapi semua kembali ke selera masing-masing ya.
Sumber resep dari majalah Sedap Pemula dan saya modifikasi sedikit. Stok bahan-bahan yang lain sudah siap semua, langsung deh membuat Nagasari dengan resep dibawah ini.


Nagasari ( Kue Pisang)
Untuk 20 buah

Bahan:
  • 2 buah pisang tanduk, iris bulat menjadi 20.
  • 150 gram tepung beras
  • 150 gram gula pasir
  • 650 ml santan dari ½ butir kelapa
  • ½ sendok teh garam
  • 1/8 sendok teh vanili bubuk
  • 2 lembar daun pandan, simpulkan
  • 25 gram tepung hunkwe
  • 25 gram tepung sagu
  • Daun pisang untuk membungkus

Cara membuat:
  1. Larutkan tepung sagu dan tepung hunkwe dengan 200 ml santan, sisihkan.
  2. Larutkan tepung beras, gula pasir, garam dan vanili bubuk di dalam 450 ml santan. Masak bersama pandan sambil diaduk sampai kalis.
  3. Masukkan larutan tepung sagu dan hunkwe. Aduk sampai licin dan berminyak.
  4. Ambil daun pisang, letakkan satu iris daun pandan.
  5. Letakkan adonan. Letakkan satu iris pisang. Tutup dengan adonan.
  6. Bungkus dengan daun pisang.
  7. Kukus 45 menit dengan api sedang sampai matang. Sajikan.


Selamat mencoba dan menikmati d

 NAGASARI

Tak terasa Nok Ness sudah satu setengah tahun, waktunya imunisasi pediacel yang keempat. Yuk, kita ke RSIA Permata Cibubur ya nok? Alhamdulillah dapat nomor antrian dua, biasanya selalu dapat nomor antrian antara 10-15. Setelah pulang imunisasi saya mampir kios seberang rumah sakit, tergoda melihat pisang tanduk yang yang bohay dan tua.
Sampai rumah nok ness tertidur, waktunya membuat cemilan. Pilihan saya membuat nagasari. Daun pisang sudah saya siapkan sebelumnya, untuk menghindari daun pisang yang mudah sobek dengan menjemurnya sebentar sampai agak layu lalu siapkan potongan-potongan daun pisang sesuai ukuran untuk nagasari. Bersihkan potongan-potongan daun pisang dengan lap basah, daun pisang siap untuk membungkus adonan apa saja atau simpan untuk esok harinya.

Nagasarinya uenakkkk kata ayah, hihihi…senangnya, nok ness suka sekali makan nagasari, enak karena pisangnya juga benar-benar matang. Satu resep menjadi dua puluh bungkus, saya mencoba menyimpan empat bungkus untuk esok hari ternyata masih enak. Saya ingat ibu saya sering membuat nagasari dan buatan beliau menjadi favorit keluarga besar saya. Beliau selalu membuat nagasari dengan campuran maizena, berhubung stok maizena tinggal sedikit hanya ada stok tepung hunkwe dan sagu. Akhirnya nagasari saya buat dengan campuran kedua tepung tersebut, hasilnya agak kenyal dan rasanya menurut saya lebih enak daripada menggunakan tepung beras saja. Tapi semua kembali ke selera masing-masing ya.
Sumber resep dari majalah Sedap Pemula dan saya modifikasi sedikit. Stok bahan-bahan yang lain sudah siap semua, langsung deh membuat Nagasari dengan resep dibawah ini.


Nagasari ( Kue Pisang)
Untuk 20 buah

Bahan:
  • 2 buah pisang tanduk, iris bulat menjadi 20.
  • 150 gram tepung beras
  • 150 gram gula pasir
  • 650 ml santan dari ½ butir kelapa
  • ½ sendok teh garam
  • 1/8 sendok teh vanili bubuk
  • 2 lembar daun pandan, simpulkan
  • 25 gram tepung hunkwe
  • 25 gram tepung sagu
  • Daun pisang untuk membungkus

Cara membuat:
  1. Larutkan tepung sagu dan tepung hunkwe dengan 200 ml santan, sisihkan.
  2. Larutkan tepung beras, gula pasir, garam dan vanili bubuk di dalam 450 ml santan. Masak bersama pandan sambil diaduk sampai kalis.
  3. Masukkan larutan tepung sagu dan hunkwe. Aduk sampai licin dan berminyak.
  4. Ambil daun pisang, letakkan satu iris daun pandan.
  5. Letakkan adonan. Letakkan satu iris pisang. Tutup dengan adonan.
  6. Bungkus dengan daun pisang.
  7. Kukus 45 menit dengan api sedang sampai matang. Sajikan.


Selamat mencoba dan menikmati d

LEPET PISANG


Aroma buah pisang mempertinggi cita rasa kue dan kue pun terasa lembut. Pisang merupakan buah favorit banyak orang, sehingga banyak sekali pisang diolah menjadi berbagai kudapan bukan hanya cake saja. Pisang juga bisa diolah menjadi roti, crepe, pastry, snack, pai, pudding, pancake, kue tradisional bahkan sampai kue kering.

Buah pisang mengandung banyak vitamin dan mineral. Sebaiknya menyimpan pisang digantung dalam keadaan suhu ruang dan jangan disimpan didalam lemari pendingin karena pisang mengandung gas tinggi dan kulit pisang lebih mudah menghitam dan bonyok.


Ada beberapa jenis pisang yang bisa diolah menjadi kudapan ataupun langsung di konsumsi, antara lain:

Pisang Ambon
  • Kulitnya halus. Warnanya berubah menjadi kuning jika matang.
  • Daging buah berwarna agak krem dan mempunyai kekerasan sedang.
  • Aromanya harum dan rasanya manis.
  • Cocok dikonsumsi dalam bentuk segar setelah matang atau diolah menjadi banana cake.

Pisang Ambon Lumut
  • Warna kulitnya hijau sampai hijau kekuningan ketika matang.
  • Daging buahnya berwarna lebih putih, dengan ukuran yang lebih kecil dan teksturnya lebih lunak dari pisang ambon.
  • Aromanya lebih harum dan cita rasanya lebih manis dari pisang ambon.
  • Bisa dikonsumsi langsung.

Pisang Raja
  • Kulitnya cenderung tebal, kasar, dan akan berwarna kuning jika matang.
  • Daging buahnya berwarna krem kekuningan dan permukaannya agak berbulu (tidak mulus).
  • Aromanya harum, cita rasanya legit dan manis.
  • Selain dikonsumsi langsung, bisa juga diolah menjadi es pallu butung atau pisang ijo.

Pisang Raja Sereh
  • Kulit buahnya tipis, berwarna kuning kecokelatan, dan berbintik cokelat gelap jika sudah matang.
  • Daging buahnya lunak dan berwarna putih.
  • Rasanya agak asam dan aromanya tidak terlalu tajam.
  • Cocok dimakan langsung.

Pisang Mas
  • Kulitnya tipis dan berwarna kuning keemasan saat matang.
  • Daging buahnya beraroma harum, teksturnya halus, warnanya kuning terang, dan rasanya sangat manis.
  • Cocok untuk dimakan langsung atau digoreng.

Pisang Kepok
  • Kulitnya agak tebal, berwarna hijau ketika mentah, dan menjadi kuning saat matang.
  • Daging buahnya berwarna krem dan bertekstur halus.
  • Meskipun bisa dikonsumsi langsung, pisang kepok lebih lezat jika direbus, dikukus, atau digoreng. (Sumber Femina)




Jadi ingat waktu masih SD sampai SMA sering sekali Almarhumah ibu menyuruh saya membeli pisang dan ternyata pada waktu itu pertama kali saya membeli dan memilih pisang sendiri, senang sekali. Setibanya dirumah ibu melihat pisang yang saya beli dan ekspresi beliau seperti marah ha…ha…ternyata benar adanya, pisang yang saya beli bukan pisang yang siap dikonsumsi dan tidak benar-benar tua lalu beliau menyuruh saya mengembalikan dan menukarkan dengan pisang yang lain yang matang sambil member tahu saya bagaimana cara memilih pisang yang tua. Untuk selanjutnya saya membeli pisang selalu hati-hati daripada kerja dua kali bolak-balik hanya karena pisang yang tidak siap dikonsumsi ha..ha…ternyata teringat sampai sekarang, sungguh pelajaran yang berharga.

Saya punya langganan penjual pisang, dia punya dua kios, satu ada di dalam pasar Kranggan lantai bawah dan yang satu lagi biasanya saya lebih senang membeli pisang di kios mamang yang dipinggir jalan raya sebelum pasar, lebih lega rasanya dan puas memilih pisang. Si mamang penjual pisangnya ramah, baik dan selalu menawarkan pisang yang benar-benar tua dan siap untuk kita santap. Karena langganan, saya sering diberi bonus pisang ambon yang sudah matang, biasanya saya simpan untuk membuat cake pisang. Seringnya saya beli pisang raja sereh ha…ha…favorit ayah dan nok Ness, kalaupun ada pisang kepok yang matang bentuknya bantet montok saya tidak pernah menolak untuk membelinya karena di pasar kranggan jarang menemukan pisang kepok yang mantap seperti pasar yang ada di tempat asal saya. Pisang kepok ini sering saya olah menjadi kue pisang favorit keluarga saya yaitu lepet pisang. Kue ini cocok lho untuk isian snack box, karena kue ini termasuk best seller tante saya di Pekalongan. Almarhum ibu saya sering sekali membuat lepet pisang ini, sekali beli pisang kepok setandan terkadang setelah diolah dibagikan dengan tetangga dan family yang lain. Kenangan yang tak terlupakan. Padahal resepnya mudah dan simple lho, yang penting pisangnya yang benar-benar matang ya, sumber resep dari keluarga besar saya.


Lepet Pisang
Resep: Keluarga Boedjang Rasad

Bahan kulit:
  • 1 sisir pisang saba/kepok kuning
  • 50 gram tepung beras
  • ¼  sendok teh garam
  • Daun pisang untuk membungkus

Bahan isi:
  • 200 gram kelapa parut kasar
  • 75 gram gula merah, disisir halus
  • 25 gram gula pasir
  • 1 lembar daun pandan
  • ¼ sendok teh garam
  • 100 ml air

Cara membuat:
  1. Isi : masak kelapa parut kasar, gula merah, gula pasir, garam, daun pandan dan air sambil diaduk sampai meresap dan kering. Sisihkan.
  2. Kulit: Haluskan pisang kepok cukup dengan menggunakan ulekan yang dibungkus plastik. Tambahkan tepung beras dan garam lalu aduk sampai tercampur rata.
  3. Siapkan daun pisang. Ambil satu sendok makan adonan isi dengan unti. Tutup dengan satu sendok makan lagi. Lalu gulung dan lipat kedua pinggirnya. Sampai adonan habis.
  4. Kukus 30 menit diatas api sedang sampai matang. Sajikan.

Selamat mencoba dan menikmati d



LEPET PISANG


Aroma buah pisang mempertinggi cita rasa kue dan kue pun terasa lembut. Pisang merupakan buah favorit banyak orang, sehingga banyak sekali pisang diolah menjadi berbagai kudapan bukan hanya cake saja. Pisang juga bisa diolah menjadi roti, crepe, pastry, snack, pai, pudding, pancake, kue tradisional bahkan sampai kue kering.

Buah pisang mengandung banyak vitamin dan mineral. Sebaiknya menyimpan pisang digantung dalam keadaan suhu ruang dan jangan disimpan didalam lemari pendingin karena pisang mengandung gas tinggi dan kulit pisang lebih mudah menghitam dan bonyok.


Ada beberapa jenis pisang yang bisa diolah menjadi kudapan ataupun langsung di konsumsi, antara lain:

Pisang Ambon
  • Kulitnya halus. Warnanya berubah menjadi kuning jika matang.
  • Daging buah berwarna agak krem dan mempunyai kekerasan sedang.
  • Aromanya harum dan rasanya manis.
  • Cocok dikonsumsi dalam bentuk segar setelah matang atau diolah menjadi banana cake.

Pisang Ambon Lumut
  • Warna kulitnya hijau sampai hijau kekuningan ketika matang.
  • Daging buahnya berwarna lebih putih, dengan ukuran yang lebih kecil dan teksturnya lebih lunak dari pisang ambon.
  • Aromanya lebih harum dan cita rasanya lebih manis dari pisang ambon.
  • Bisa dikonsumsi langsung.

Pisang Raja
  • Kulitnya cenderung tebal, kasar, dan akan berwarna kuning jika matang.
  • Daging buahnya berwarna krem kekuningan dan permukaannya agak berbulu (tidak mulus).
  • Aromanya harum, cita rasanya legit dan manis.
  • Selain dikonsumsi langsung, bisa juga diolah menjadi es pallu butung atau pisang ijo.

Pisang Raja Sereh
  • Kulit buahnya tipis, berwarna kuning kecokelatan, dan berbintik cokelat gelap jika sudah matang.
  • Daging buahnya lunak dan berwarna putih.
  • Rasanya agak asam dan aromanya tidak terlalu tajam.
  • Cocok dimakan langsung.

Pisang Mas
  • Kulitnya tipis dan berwarna kuning keemasan saat matang.
  • Daging buahnya beraroma harum, teksturnya halus, warnanya kuning terang, dan rasanya sangat manis.
  • Cocok untuk dimakan langsung atau digoreng.

Pisang Kepok
  • Kulitnya agak tebal, berwarna hijau ketika mentah, dan menjadi kuning saat matang.
  • Daging buahnya berwarna krem dan bertekstur halus.
  • Meskipun bisa dikonsumsi langsung, pisang kepok lebih lezat jika direbus, dikukus, atau digoreng. (Sumber Femina)




Jadi ingat waktu masih SD sampai SMA sering sekali Almarhumah ibu menyuruh saya membeli pisang dan ternyata pada waktu itu pertama kali saya membeli dan memilih pisang sendiri, senang sekali. Setibanya dirumah ibu melihat pisang yang saya beli dan ekspresi beliau seperti marah ha…ha…ternyata benar adanya, pisang yang saya beli bukan pisang yang siap dikonsumsi dan tidak benar-benar tua lalu beliau menyuruh saya mengembalikan dan menukarkan dengan pisang yang lain yang matang sambil member tahu saya bagaimana cara memilih pisang yang tua. Untuk selanjutnya saya membeli pisang selalu hati-hati daripada kerja dua kali bolak-balik hanya karena pisang yang tidak siap dikonsumsi ha..ha…ternyata teringat sampai sekarang, sungguh pelajaran yang berharga.

Saya punya langganan penjual pisang, dia punya dua kios, satu ada di dalam pasar Kranggan lantai bawah dan yang satu lagi biasanya saya lebih senang membeli pisang di kios mamang yang dipinggir jalan raya sebelum pasar, lebih lega rasanya dan puas memilih pisang. Si mamang penjual pisangnya ramah, baik dan selalu menawarkan pisang yang benar-benar tua dan siap untuk kita santap. Karena langganan, saya sering diberi bonus pisang ambon yang sudah matang, biasanya saya simpan untuk membuat cake pisang. Seringnya saya beli pisang raja sereh ha…ha…favorit ayah dan nok Ness, kalaupun ada pisang kepok yang matang bentuknya bantet montok saya tidak pernah menolak untuk membelinya karena di pasar kranggan jarang menemukan pisang kepok yang mantap seperti pasar yang ada di tempat asal saya. Pisang kepok ini sering saya olah menjadi kue pisang favorit keluarga saya yaitu lepet pisang. Kue ini cocok lho untuk isian snack box, karena kue ini termasuk best seller tante saya di Pekalongan. Almarhum ibu saya sering sekali membuat lepet pisang ini, sekali beli pisang kepok setandan terkadang setelah diolah dibagikan dengan tetangga dan family yang lain. Kenangan yang tak terlupakan. Padahal resepnya mudah dan simple lho, yang penting pisangnya yang benar-benar matang ya, sumber resep dari keluarga besar saya.


Lepet Pisang
Resep: Keluarga Boedjang Rasad

Bahan kulit:
  • 1 sisir pisang saba/kepok kuning
  • 50 gram tepung beras
  • ¼  sendok teh garam
  • Daun pisang untuk membungkus

Bahan isi:
  • 200 gram kelapa parut kasar
  • 75 gram gula merah, disisir halus
  • 25 gram gula pasir
  • 1 lembar daun pandan
  • ¼ sendok teh garam
  • 100 ml air

Cara membuat:
  1. Isi : masak kelapa parut kasar, gula merah, gula pasir, garam, daun pandan dan air sambil diaduk sampai meresap dan kering. Sisihkan.
  2. Kulit: Haluskan pisang kepok cukup dengan menggunakan ulekan yang dibungkus plastik. Tambahkan tepung beras dan garam lalu aduk sampai tercampur rata.
  3. Siapkan daun pisang. Ambil satu sendok makan adonan isi dengan unti. Tutup dengan satu sendok makan lagi. Lalu gulung dan lipat kedua pinggirnya. Sampai adonan habis.
  4. Kukus 30 menit diatas api sedang sampai matang. Sajikan.

Selamat mencoba dan menikmati d



Please Enable JavaScript!
Mohon Aktifkan Javascript![ Enable JavaScript ]

Banyak di Baca